ZONA INTEGRITAS, ANTARA HARAPAN DAN REALITAS

Foto: Humas Pengadilan Agama Tuban
Harapan
selalu diasumsikan sebagai semangat yang berujung pada pencapaian nilai – nilai
yang di inspirasikan, mau itu inspirasi yang bermuara pada suatu titik di mana
kita butuh stamina untuk meraihnya, atau cukup tertegun pasif tanpa ikhtiar,
namun perlu disadari bahwa untuk menuju ke arah yang diharapkan, ibarat pelangi
yang eksis saat hujan baru turun seadanya. Harapan akan selalu berbalut dengan
dua kemungkinan, tercapai atau harus menunggu lagi, namun jangan lupa,
landaskan semua itu pada basis spirit monumental dengan kalimat taiyyebah "INSYA ALLAH".
Dalam kurung waktu belakangan ini, hingar bingar proses menuju suatu perubahan yang dikemas dalam narasi ZI (Zona Intergritas), terlihat nyaris semua potensi terkuras tertuju habis pada upaya dan harapan meraih tatanan berbasis pelayanan dan penciptaan keadaan lingkungan yang steril dari perilaku koruptif, kolusi dan manipulitif, yang entah apa lagi namanya.
Proses menuju ke sana telah dilakukan dengan beragam perwajahan, dibuat sedemikian rupa dengan multi tampilan yang seolah menjadi referensi. Jujur, secara personal saya belum mampu menalar, apa dan sejauh mana korelasi pekikan "yel-yel" dan nyanyian yang digubah keluar dari lirik aslinya, mampu merubah mind set dan culture set kita, semua terkesan serba di ada-adakan demi untuk satu tujuan yang samar (Syubhat), semua diikhtiarkan dalam rangka mengejar pencapaian target semu. Semakin banyak eviden yang dibuat dan dihimpun maka akan dianggap pencapaian yang prestisius, semua potensi dikerahkan dan sangat mungkin dengan pemaksaan diri, baik secara individu maupun kolektif yang muaranya apalagi kalau bukan karena target pencapaian reward sertifikasi. Saya tentu tidak sedang bangun tidur unutk menjustifikasi semua itu, "apakah penting dan berfaedah atau penuh dengan kesia-siaan".
Kalau memang sasaran akhir stop berhenti hanya sampai disitu, maka semestinya kita sudah berada dalam kategori level kasta di langit ketujuh, merengkuh tak terbilang prestasi, mengingat intensitas giat seremonial belakangan ini yang seolah tak menyisakan waktu lagi buat yang lainnya
Coffee Morning yang semestinya lebih berfaedah menjadi forum diskusi
dan bertukar fikiran sambil duduk menyerup secangkir kopi, kini dikemas dalam
format seremonial penuh dagelan. Coba dibayangkan, mulai dari setingkat Juru
sita hingga konon sampai pejabat Negara,
berbaur menjadi satu dipandu seorang CPNS bernyanyi, menggaungkan slogam,
pekikan yel-yel dan bertepuk tangan tak perlu beraturan, mengingatkan kita semasa
era TK. dulu, meski menjemukan semua mesti ikut arus, sehabis itu, apa yang
tersisa. 8 (Delapan) nilai utama MA. yang setiap waktu digaungkan, secara
harfiah mengkin memang menghujam dalam di otak kepala kita, namun di tataran
aplikatif, kita masih perlu merenung jauh.
Inovasi-inovasi yang dapat diartikulasikan sebagai perangkat aplikasi yang menjanjikan, dapat kita baca tak ubahnya baru sebatas decoroom yang dijejali ornamentasi, itu yang tampak dipermukaan sehingga essensi dasar pembangunan Zona Intergritas yang mencitrakan bersih dari perilaku menyimpang serta pemberian pelayanan yang paripurna, nyaris tak teraplikasikan dan melembaga sebagai suatu tradisi, tercampakkan oleh perilaku yang masih terus mencari dan mencari untuk menggapai hal-hal yang berskala ornament, semakin kita coba untuk paham justru semakin nampak pula ada kesulitan untuk tahu dan memahaminya.









